Sekapur Sirih dari kesainta.blogspot.com

Selamat Datang di kesainta.blogspot.com, wahana kerinduan berziarah kedalam relung hati untuk merajut kata demi kata dari keheningan.

Rabu, 17 Oktober 2012

Pidato Presiden SBY Saat Memperingati Pancasila Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

TRANSKRIPSI SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA MEMPERINGATI PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945
GEDUNG MPR/DPR/DPD RI, JAKARTA
1 JUNI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang sama-sama kita cintai dan kita muliakan Ibu Megawati Soekarno Putri, Presiden Republik Indonesia kelima,
Yang saya hormati Bapak Try Sutrisno, Bapak Hamzah Haz, Bapak Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden yang mengemban tugas pada masa bakti beliau masing-masing;
Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia;
Yang saya hormati saudara Ketua MPR RI dan para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara serta segenap anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu;
Para Pimpinan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan;
Yang sama-sama kita muliakan para sesepuh dan para tokoh nasional;
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Taufik Kiemas Ketua MPR RI yang memiliki prakarsa untuk bersama-sama memperingati Pidato Bersejarah Bung Karno yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945.
Saudara-saudara,
Berbicara tentang Pancasila, tentu kita berbicara tentang Bung Karno dan berbicara tentang Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Oleh karena itu mari kita jadikan peringatan ini untuk memahami pemikiran-pemikiran besar Bung Karno, mengetahui jejak dan proses sejarah dijadikannya Pancasila sebagai Dasar Negara dan kemudian yang tidak kalah pentingnya bagaimana kita mengaktualiasikan dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masa kini dan masa depan.
Saudara-saudara, hadirin yang saya muliakan,
Saya ingin merespon terlebih dahulu apa yg disampaikan oleh Pimpinan MRI RI tadi, Pak Taufik, saya bersetuju dan saya garisbawahi bahwa rangkaian dokumen sejarah 1 juni 1945 hingga teks final Pancasila yang di Undang Undang Dasarkan, yang menjadi konstitusi pada tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan dalam proses kelahiran falsafah Pancasila.
Saya juga setuju terhadap yang disampaikan oleh Pimpinan MPR tadi bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika adalah empat pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini penting saya garisbawahi. Empat-empatnya harus menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini sepanjang masa.
Hadirin sekalian yang saya hormati;
Empat tahun yang lalu 1 juni 2006 kita juga memperingati sesungguhnya Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Sebagian besar yang ada di ruangan ini juga turut hadir dalam acara yang penting itu. Kita mengangkat pemikiran-pemikiran besar Bung Karno dengan tujuan untuk dapat kita aktualisasikan dalam respon perkembangan jaman. Pada saat itu saya juga menyampaikan pidato dan saya mengedepankan sejumlah pemikiran besar Bung Karno yang saya anggap relevan untuk menghadapi tantangan keadaan, baik yang dihadapi bangsa kita maupun oleh dunia.
Secara khusus waktu itu sebagian dari saudara saya kira masih ingat, saya mengangkat pikiran Bung Karno, misalnya hubungan antara nasionalisme dengan internasionalisme, atau kemanusian hubungan demokrasi dengan kesejahteraan dan keadilan sosial, termasuk bagaimana bangsa kita di dalam menjalankan kehidupan beragama sepatutnya dilaksanakan dengan cara-cara yang berkeadaban, dan sejumlah pemikiran beliau yang saya sampaikan pada Peringatan 1 Juni tahun 2006 yang lalu.
Disisi lain pada saat itu, saya juga menyampaikan kalau kita ingin mengaitkan Pancasila dengan tranformasi, dan reformasi yang sedang kita jalankan ini maka marilah kita kaitkan bahwa reformasi itu sejatinya adalah continuity and change. Hal-hal yang masih relevan apalagi warisan dari para pendahulu kita, para founding fathers semacam empat pilar utama yang disampaikan pimpinan MPR tadi tentu harus kita pertahankan menjadi bagian dari continuity.
Hal-hal baru bisa kita lakukan untuk membuat kehidupan bernegara ini menjadi lebih baik tanpa menggoyahkan, tanpa menanggalkan, yang saya sebut dengan fundamental consensus, nilai-nilai dasar, konsensus dasar. Disini Pancasila tentu salah satu pilar penting dan salah satu fundamental consensus yang telah kita sepakati sejak Indonesia merdeka. Dan tidak sepatutnya kita memperdebatkan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara ini penting. Karena MPR RI pada tahun 1998 melalui Ketetapan MPR No.18 MPR 1998, maka Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara.
Saya kira mari kita patrikan dan kita hentikan debat tentang Pancasila sebagai Dasar Negara karena itu kontra produktif dan juga ahistoris. Saya tidak ingin mengulangi lagi saudara-saudara apa yang telah kita bahas pada peringatan 1 juni 2006 lalu kecuali beberapa hal ingin saya garis bawahi karena saya pandang tetap relevan dengan perkembangan keadaan dan tantangan yang kita hadapi dewasa ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam pidato yang saya ingin saya sampaikan ini, saya ingin mengangkat dua subtansi utama. Pertama adalah saya ingin mengangkat kembali sejumlah pikiran penting Bung Karno yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945, termasuk apa relevansinya terhadap perkembangan jaman sekarang ini. Lantas aktualisasinya juga seperti apa agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi makin kuat dan kokoh. Ketika saya menyampaikan butir-butir pemikiran cemerlang Bung Karno ini, saya ingin meletakan diri saya sebagai salah satu anak bangsa, sebagai sesesorang yang sejak muda telah melihat pikiran cemerlang Bung Karno. Saya kira generasi seumur saya, waktu kita mengikuti pendidikan SMP dan SMA kita sudah mulai membaca Pidato Bung Karno 1 Juni 1945.
Sedangkan substansi yang kedua dalam pidato saya ini, berangkat dari itu apa dan bagaimana yang mesti kita lakukan untuk memastikan kehidupan berbangsa dan bernegara kita mengarah pada arah yang benar sesuai dengan empat pilar kehidupan berbangsa, sesuai dengan jati diri kita dalam menghadapi tantangan globalisasi. Tentu saja meskipun kita memiliki empat pilar yang sangat penting, bangsa kita haruslah tetaplah adaptif, tetap memiliki visi yang jauh, menjangkau jauh ke depan agar di abad ke 21 ini Indonesia benar-benar menjadi negara yang maju, negara yang bermartabat dan negara sejahtera.
Saudara-saudara,
Ijinkan saya untuk memulai dari bagian yang pertama. Dalam peringatan tahun ini saya ingin mengedepankan tujuh pikiran penting Bung Karno dalam pidato 1 Juni. Pertama, sebelum menyampaikan kandungan dari pidato bersejarah beliau, Bung Karno mengingatkan kepada BPUPKI waktu itu pada ketua sidang, bahwa yang hendak dicari, ditemukan dan disepakati adalah dasar Indonesia merdeka. Saya membaca berulang-ulang mengapa Bung Karno dalam mukadimahnya mengatakan seperti itu. Nampaknya pembahasan selama tiga hari itu terkesan melebar, berlarut-larut, dan mungkin juga lepas dari konteks.
Oleh karena itu, justru Bung Karno ingin mengajak sidang waktu itu untuk fokus, bahwa hendak dirumuskan bersama yang hendak disepakati adalah dasar atau asas Indonesia merdeka. Bahkan diberikan contoh Hitler Jerman memilih dasar nasional-sosialistik, Lenin Rusia memilih dasar Marxisme-Historis-Materialistik, Ibnu Saud, Saudi Arabia memilih dasar Islam, Sun Yat Sen, Tiongkok memilih dasar Nasionalisme-Demokrasi-Sosialisme.
Membandingkan negara-negara lain yang memilih dasar dalam kehidupan bernegara itu menurut telaahan saya memudahkan sidang untuk memahami apa yang sedang dicari waktu itu, untuk menjadi benar-benar dasar dan asas Indonesia Merdeka. Bahkan sekarangpun saudara-saudara kejelasan seperti itu masih sangat penting karena di antara kita, di antara rakyat kita masih bertanya apa yang atau dalam makna dan pengertian seperti apa Pancasila menjadi dasar negara kita, menjadi asas negara kita.
Dan saya ingatkan dasar atau asas bukanlah visi, bukanlah grand strategy, bukanlah haluan negara. Meskipun sebuah negara memerlukan visi, grand strategy ada haluan negara tapi di atas segalanya adalah pondasi, atau dasar. Dan di sini yang ingin saya angkat justru kekuatan pidato 1 Juni dimulai dari apa yang hendak dirumuskan, yang akhirnya nanti menjadi Indonesia Merdeka, itu yang pertama.
Yang kedua, mari kita melanjutkan untuk memahami pemikiran essential Bung Karno yang kemudian dalam prosesnya menjadi jiwa dan nafas dari Pancasila, sebagaimana yang akhirnya dirumuskan dalam teks 18 Agustus 1945. Dasar Negara yang ditawarkan oleh Bung Karno dalam pidato itu ada lima, pertama, adalah Kebangsaan Indonesia atau nasionalisme, kedua Internasionalisme atau Kemanusiaan, ketiga, Mufakat atau Demokrasi, yang keempat kesejahteraan, sosial dan yang paling penting Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lima butir itulah yang dikedepankan as it is pada Pidato 1 Juni 1945 kalau kita renungkan sejenak gamblang sekali. Bung Karno bicara nasionalisme atau kebangsaan Indonesia, bicara internasionalisme atau kemanusiaan yang kita kenal sekarang ini. Bicara mufakat atau demokrasi yang menjadi favorit masyarakat global. Bicara kesejahteraan sosial yang menjadi never-ending goals dari setiap pembangunan, dan di atas segalanya Ketuhanan Yang Maha Esa.
Setelah melalui proses perdebatan yang seru dan sejarah, kalau kita membaca seluruh risalah sidang-sidang BPUPKI akan paham betul dinamika perdebatan dari para founding fathers, antara Bung Karno, Bung Hatta, Pak Yamin, Pak Soepomo, Ki Bagus banyak sekali tokoh-tokoh yang ikut urun rembuk untuk mencari seperti apa Dasar Negara itu. Yang akhirnya akhirnya consensus building telah tercapai dan Pancasila yang mulai disampaikan pada pidato 1 Juni itulah yang akhirnya dipilih menjadi Dasar Negara kita.
Oleh karena itu, masih dalam konteks pidato 1 Juni, kalau saya diminta untuk memberikan pandangan apa hubungan Pancasila dengan Bung Karno, Bung Karno menurut beliau sendiri bahkan ketika menjadi sudah menjadi Presiden, kita ikuti pidato-pidatonya, beliau mengatakan bahwa, saya kutip “Saya menggali Pancasila dari buminya Indonesia”. Jadi beliau adalah penggali Pancasila, dan Bung Karno saya kutip kata-kata beliau telah memikirkan dasar, asas, falsafah, ideologi Indonesia merdeka itu selama 27 tahun sejak tahun 1918 berarti berusia 17 tahun sampai 1945 ketika pidato 1 Juni disampaikan twenty seven years.
Soekarno muda memikirkan tentang dasar bagi Indonesia Merdeka. Bung Karno lah yang pertama kali menggunakan istilah Pancasila pada pidato 1 Juni. Dan kalau kita letakkan kembali dalam proses sejak 1 Juni, 22 Juni, 18 Agustus ya Bung Karno memiliki peran yang sentral dalam perumusan Pancasila itu. Saya ingin mengedepankan sejarah itu sejarah adalah sejarah, oleh karena itu yang harus kita pahami apa adanya, as it is.
Saudara-saudara;
Yang ketiga, marilah kita bicara sekarang pemikiran besar beliau yang pertama tentang nasionalisme atau kebangsaan Indonesia. Saya tidak ingin menguraikan panjang-lebar, saya akan menggarisbawahi, highlights, mana yang paling relevan untuk masa kini dan masa depan. Bung Karno mengatakan bahwa nasionalisme yang dimaksudkan bukanlah kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme tetapi nasionalisme, saya kutip kata-kata beliau, “Menuju persatuan dunia, menuju persaudaraan dunia dalam kekeluargaan bangsa-bangsa, sehingga tidak perlu ada konflik antara nasionalisme dengan kemanusiaan atau keduniaan.”
Bahkan dalam kalimat yang lain Bung Karno mengatakan, “Nasionalisme bergandengan erat dengan internasionalisme atau kemanusiaan.” Aplikasinya saudara-saudara, marilah tidak kita menjadikan nasionalisme kita ini narrow nasionalism dan janganlah kita harus hostile memusuhi bangsa-bangsa lain di dunia atau serba asing. Dalam globalisasi pun kita harus percaya diri, tidak perlu harus gamang dan melihat sebagai ancaman seluruhnya, karena sejak awal lahirnya Pancasila katakanlah itu sudah disatukan antara nasionalisme dan internasionalisme, itu yang ketiga.
Yang keempat, yang hendak kita dirikan menurut Bung Karno adalah sebuah negara kebangsaan, negara nasional. Nation state, dalam istilah yang modern. Beliau mengatakan mengutip kata-kata Ernest Renan seorang Perancis apa yg disebut bangsa, apa syarat-syaratnya dikatakan disitu dalam bahasa Prancis tolong dikoreksi pronounciation saya kalau salah “Le desir d’etre ensembe, kehendak akan bersatu” . Tidak cukup hanya ada manusia, ada wilayah, ada pemerintahan, dan tidak actually kehendak akan bersatu.
Dalam alam dewasa ini, di era desentralisasi dan otonomi daerah sekarang ini, kita melihat banyak yang positif dengan desentralisasi dan otonomi daerah sebagai koreksi dari sistem pemerintahan yang dulu amat sentralistik dan konsentrik. Tetapi kita melihat juga ada ekses, ada hal-hal yang harus kita cegah untuk tidak makin membesar yaitu yang menjauh dari kehendak dari sebuah bangsa akan bersatu, yaitu kebangsaan Indonesia, yaitu nasionalisme Indonesia muncul, atau harus kita cegah yang namanya sukuisme, primordialisme, kedaerahan, agama-sentris, atau pun ikatan identitas yang serba-sentris.
Dalam konteks ini, pemimpin, tokoh di seluruh Indonesia harus menjadi contoh dan menjadi pelopor. Jangan justru ikut-ikutan untuk mengembangkan ikatan-ikatan yang sempit, yang berbeda dengan kebangsaan Indonesia. Dalam pilkada masih ada nuansa yang jauh dari semangat kebangsaan, berlebihan, masih ada perkelahian antar suku dan agama di beberapa tempat. Mari sekali lagi kita kembali kepada semangat kebangsaan Indonesia kehendak akan bersatu. Desentralisasi dan otonomi daerah dan pilkada, marilah kita ambil manfaat tujuan utama seraya kita cegah ekses dan penyimpangan yang bisa terjadi, itu yang keempat.
Yang Kelima, Bung Karno menolak kosmopolitisme, sebuah paham yang tidak mengakui adanya bangsa. Dalam era sekarang saya ingin mengingatkan bahwa meskipun kita hidup dalam perkampungan dunia, a global village, tetapi kita harus punya rumah, rumah itulah Indonesia, rumah itulah kebangsaan kita. Di tengah-tengah bangsa yang menganut nilai universal yang berinteraksi satu sama lain, round the clock 24 jam, toh kita memerlukan jadi diri, siapa kita, Indonesia, bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, berkaitan dengan pemikiran penting ini, saya ingin mengingatkan dan mengajak saudara semua meskipun sekarang ini ada ikatan atau solidaritas yang bersifat global, ikatan atau komunitas Islam sedunia, komunitas Kristen Katolik sedunia, komunitas Tionghoa sedunia, tetaplah yang pertama-tama dan yang utama adalah Ikatan kebangsaan kita. Bangsa kita, dan kita harus menolak yang disebut no-state-borderless wall. Meskipun dunia seolah-olah sudah borderless, tetap ada rumah, tetap ada bangsa, tetap ada jati diri. Jangan kita lebih setia, lebih dekat dengan ikatan-ikatan lain di luar ikatan kebangsaan kita. Ini perlu saya sampaikan.
Yang keenam, saudara-saudara, Bung Karno menyebut dalam pidato beliau dan diletakkan dalam satu nafas, kata-kata mufakat, permusyawaratan dan perwakilan. Jadi pandangan beliau tentang demokrasi atau mufakat, sekali lagi dengan menjadikan satu nafas antara mufakat, permusyawaratan dan perwakilan. Dan yang ingin digarisbawahi disitu adalah dalam demokrasi kita yang disebut fair play. Kata-kata fair play itu ada dalam pidato 1 Juni.
Dikatakan kalau kita ingin kepentingan, kita diwadahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ya harus berjuang secara demokratis, fair play, just play. Aktualisasinya yang ingin sampaikan sekarang ini adalah mari terus kita jaga semangat konstitusionalisme kita, mari terus kita jalankan sistem politik yang demokratis, mari terus kita selenggarakan pemilu yang kredibel. Di samping prinsip one man atau one person, one vote adakalanya consensus building atau musyawarah untuk mufakat, itu juga bagian dari demokrasi.
Oleh karena itu, ada pandangan semua harus di voting, one man atau one person, one vote tidak selalu begitu. Ada kalanya musyawarah, consensus building, consensus meeting itu solusi. Asalkan ikhlas dan tidak ada paksaan maupun tekanan. Ini adalah aktualisasi yang barangkali perlu kita pikirkan.
Pemikiran ketujuh, yang akan saya angkat dalam peringatan hari ini, dari pidato 1 Juni adalah konsep negara gotong-royong yang ditawarkan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni. Esensinya adalah semua buat semua, bekerja keras bersama, saling membantu satu sama lain, itu ada kata-kata seperti itu.
Kalau aktualisasikan saudara-saudara, saya ingin mengangkat kembali pidato yang saya sampaikan saat memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa. Indonesia di abad 21, insya Allah bisa menjadi negara yang maju, dengan syarat kita bisa meningkatkan kemandirian, daya saing dan peradaban yang unggul. Dan itu bisa dicapai hanya kalau bangsa ini terus meningkatkan persatuan, kebersamaan, dan kerja keras. Kalau bicara persatuan, kebersamaan, dan kerja keras, maka tiada lain konsep gotong-royong yang disampaikan oleh presiden pertama kita, Bung Karno tadi adalah semua buat semua, all for all, bekerja keras bersama. Beliau menyebut keringat begitu, dan saling membantu satu sama lain.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Itulah 7 pikiran penting Bung Karno yang ada dalam pidato 1 Juni. Kalau kita bedah, kita telaah, kita kupas lagi, masih akan ada pikiran-pikiran yang lain, dan tentunya masih ada forum yang lain untuk membedah, mengangkat kembali pikiran-pikiran itu.
Akhirnya bagian terakhir dari pidato saya adalah, sekarang bagaimana kita melihat ke depan. Bagaimana Pancasila bisa kita gunakan sebagai rujukan dalam menjawab tantangan bangsa di tengah dunia yang terus berubah. Saya ingin dalam kesempatan ini menyampaikan kerisauan saya, karena ada sejumlah sikap dan pandangan yang menurut saya harus kita ubah di antara kita. Ada yang gamang melihat perubahan besar, apakah itu di tingkat global maupun nasional. Ada yang melihat globalisasi dari kacamata ancaman semata. Di sini, saya ingin menambahkan bahwa Pancasila pun oleh kita sering kita letakkan hanya sebagai pedoman untuk melangkah dan melawan ancaman itu. Itu benar, tetapi bukan hanya itu, sebab satu kekuatan, satu power dalam arti luas.
Sesungguhnya Pancasila bisa kita jadikan sesuatu untuk menciptakan peluang, untuk menjawab berbagai persoalan global. Jadi, sesuatu yang defensif kita ubah menjadi sesuatu yang lebih aktif dan pro aktif. Untuk melengkapi penjelasan saya yang terakhir ini, saya ingin mengajak saudara-saudara untuk memahami perkembangan global yang terjadi 25 tahun terakhir ini, dengan dua realitas penting, yaitu geopolitik di abad 21, dan pergeseran penganutan ideologi besar oleh masyarakat dunia.
Saya ingin langsung pada isu atau visualisasi. Begini, saudara-saudara, isu besar mendasar sekarang ini adalah berkaitan dengan tatanan perekonomian dunia. Prosesnya kalau kita flash back, kilas balik, sejak runtuhnya perang dingin adalah setelah perang dingin berakhir, bangun ekonomi yang bertumpu pada ekonomi marxisme, komunisme dianggap gagal untuk mensejahterakan rakyat. Simak sekarang perubahan pilihan ekonomi yang ada di RRT, Rusia, Vietnam, dan Eropa Timur. Tiongkok mengatakan, ekonomi pasar sosial, tapi sudah mulai memasuki wilayah market economy, seolah dalam kaitan ini yang benar adalah ekonomi kapitalisme. Itu penggal pertama. Right after berakhirnya perang dingin.
Tiba-tiba dunia dicengangkan, dikejutkan ketika tahun 2008-2009 yang lalu, belum lama, 2008-2009, dunia kembali diguncang oleh krisis ekonomi yang besar, yang disebut dengan the great recession. Tadinya yang disalahkan hanya marxisme, komunisme, sosialisme, kini dunia memandang bahwa kapitalisme, apalagi yang fundamental, yang bergaris keras dianggap tidak aman, tidak adil dan gagal mendatangkan kemakmuran bangsa-bangsa. Karenanya hukum dan otoritas pasar mulai digugat dan tengah dilakukan koreksi besar-besaran. Proses ini tengah berlangsung.
Indonesia, saya laporkan ke hadapan saudara-saudara semua, juga aktif mengambil bagian dalam membangun new economic order pada tingkat global, new global economic architecture, baik dalam forum G-20, APEC, ASEAN, dan lain-lain.
Dengan cerita ini, apa yang terpikir, saudara? Apa kaitannya dengan Pancasila? Kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa justice yang itu menjadi elemen utama dari Pancasila, keadilan sosial, atau istilah Bung Karno: kesejahteraan sosial, dalam sistem kapitalisme sering diabaikan. Prinsip semua untuk semua, atau prosperity for all, dalam perekonomian dunia juga gagal diwujudkan. Gap antara negara yang maju dengan terbelakang, gap antara negara yang sangat kaya dengan yang miskin di dunia ini makin menganga.
Berarti capitalism gagal untuk menghadirkan prosperity for all pada tingkat masyarakat global. Masih dalam aliran kapitalisme yang sangat fundamental, campur tangan pemerintah, sekalipun untuk urusan justice atau equity, dalam hukum ekonomi pasar juga sering ditabukan, meskipun tentu Indonesia tidak memilih itu.
Terjawablah, saudara-saudara, bahwa Pancasila sesungguhnya memiliki relevansi dengan semua ini. Pertama-tama yang ingin saya sampaikan adalah mari kita pastikan bangun ekonomi Indonesia, belajar benar dari pergeseran ideologi yang ada sekarang ini, dari gagalnya sistem ekonomi marxis dan komunis, dan gagalnya sistem ekonomi kapitalis dengan garis kerasnya. Mari kita pastikan bahwa bangun ekonomi kita tiada lain adalah ekonomi terbuka, berkeadilan sosial, yang juga dijiwai dari apa yang menjadi pikiran para pendiri republik.
Satu lagi, saudara-saudara, masih berkaitan dengan perkembangan dunia sekarang ini, saya ingin menambahkan satu lagi. Ini fenomena global yang dramatis, yang fundamental. Ada pergeseran atau shake, ada penyesuaian atau adaptation and adjustment dari negara-negara di dunia dalam menganut ideologi-ideologi besar. Sekarang ini, hampir tidak ada satupun negara di dunia yang secara ekstrim menerapkan ideologi ekonomi yang sudah ada dalam khazanah ideologi dunia, misalnya ideologi ekonomi kapitalisme, neoliberalisme, komunisme, dan sosialisme. Sudah banyak varian dari itu semua, varian dari kapitalisme, varian dari sosialisme. Eropa, ada yang menganut namanya welfare state, ekonomi kesejahteraan.
Negara yang dulunya kapitalis, seperti ajaran Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill, sudah bergeser pula mengadopsi nilai-nilai sosialisme. Negara yang dulunya betul-betul marxis, seperti Rusia, Vietnam, Tiongkok, juga telah memahami esensi dari pasar, tapi tetap dalam bingkai keadilan sosial. Oleh karena itu, terhadap semuanya itu, bangsa Indonesia sepatutnya tidak perlu silau, karena kembali kepada apa yang ada dalam Pancasila, ada resep, ada prinsip dasar, dan di situ jawabannya adalah, yang kita pilih: ekonomi kesejahteraan, berkeadilan sosial.
Saudara-saudara,
Itulah dua substansi yang ingin saya sampaikan, dan sebagai penutup akhirnya mari terus kita jadikan Pancasila sebagai living ideology, sebagai working ideology, yang antisipatif, yang adaptif, dan yang responsif. Pancasita tentu tidak patut kita perlakukan sebagai dogma yang kaku, apalagi kita keramatkan, karena justru menghalang-halangi Pancasila untuk merespon berbagai tantangan jaman, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat dunia. Dan itulah nilai terbesar dari Pancasila ketika kita aktualisasikan untuk menghadapi tantangan jaman masa kini dan masa depan.
Demikianlah sekali lagi, selamat untuk memperingati pidato Bung Karno 1 Juni 1945, semoga negara kita terus dibimbing oleh Allah SWT menuju negara yang maju, bermartabat, dan sejahtera di abad 21 ini. Sekian.
Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sumber presidensby.info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar