Sekapur Sirih dari kesainta.blogspot.com

Selamat Datang di kesainta.blogspot.com, wahana kerinduan berziarah kedalam relung hati untuk merajut kata demi kata dari keheningan.

Jumat, 15 Juni 2012

PESAN IBU KUPEGANG TEGUH

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!"
"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."
Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."
Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."
Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.
Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"
"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu."
Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."
Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."
_______________

Masih tercatat dengan indah pepatah yang mengatakan " Sorga Di Telapak Kaki Ibu ", kalimat ini menggambarkan betapa besarnya peranan seorang ibu di dalam kehidupan ini. Secara biologis, yang tau pasti kita ini anak siapa, ya ibu kita sendiri, itulah salah satu keunggulan yang dimiliki seorang ibu. Sehingga jika seorang pria atau seorang suami mengklaim bahwa seorang anak adalah keturunan biologisnya, untuk mengetahui kebenarannya kita harus bertanya kepada Ibu yang melahirkan anak tersebut.
Secara bathiniah kedekatan seorang anak dengan ibunya dapat kita lihat di dalam diri seorang anak balita (berusia dibawah lima tahun), ketika seorang anak menangis maka jalan keluar yang paling tepat untuk meredakan tangis seorang bayi adalah memberinya dekapan dan pelukan seorang ibu. Karena seorang bayi yang masih berumur hitungan hari saja sudah mengenal siapa ibunya, cara mengenalnya bukan melalui tatap muka, tetapi melalui merasakan detak jantung seorang ibu ketika menggendong dan mendekap bayi-nya, pengenalan ini wajar dan pantas karena selama sembilan bulan dalam rahim seorang ibu si bayi sudah dekat dan selalu merasakan detak jantung ibunya, sehingga ketika bayi dalam dekapan ibunya si bayi juga merasa seakan berada di tempat yang seharusnya miliknya. Oleh karena itu seorang ibu jangan gampang memvonnis orang lain apalagi suaminya "Tidak Pintar Merawat Anak" hanya karena seorang bayi tidak mau diam dari isak tangisnya ketika digendong orang lain, sekali lagi bukan tidak pintar, tetapi si bayi memang tau persis dengan siapa dia berada dan dengan siapa dia seharusnya mendapatkan perlindungan kasih dan sayang.
Setelah dewasa, seorang anak juga selalu menunjukkan bagaimana kedekatan bathinnya dengan ibunya, contohnya : ketika seseorang berjalan dan kakinya terantuk batu kesakitan, atau ketika seseorang sedang mengiris sesuatu dengan pisau ternyata tangannya teriris, "Kalimat apa yang meluncur dari mulutnya ?" Umumnya orang akan berujar "ADUH MA...!!!", sampai hari ini saya belum pernah mendengar ada orang yang menyebut " Aduh Pa...!!!" ditengah menahan rasa sakit.
Kedekatan bathiniah inilah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pengetahuan atau ilmu yang paling gampang diserap seorang anak adalah berasal dari ibunya.  Jadi, "Guru kehidupan yang sesungguhnya adalah Ibu", Pengetahuan tentang kehidupan kita peroleh pertama sekali dari seorang ibu. Berbahagialah kaum Ibu karena ternyata langkah awal menjalani kehidupan yang dilakukan umat manusia berawal dan hasil tempaan seorang ibu.
Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari narasi atau cerita diatas, seorang ibu mengajarkan kepada seorang anak bahwa dalam kehidupan ini kita harus melakukan sesuatu dengan kemauan dan kemampuan kita sendiri, dan pesan moral yang ingin disampaikan kepada seorang anak : "Nikmatilah kehidupan berdasarkan hasil kerja keras diri sendiri, bukan menjadi orang yang mesti mendapat bantuan dari orang lain, melainkan harus mandiri jika ingin sukses dalam kehidupan"
Pesan ini sangat relevan dan aktual dalam konteks kehidupan kita dewasa ini, dimana nuansa kehidupan dewasa ini cenderung mengarah "Serba Instan", segala sesuatu ingin dilakukan dan diraih dengan cara serba gampang, bahkan menghalalkan segala cara.  Padahal kehidupan dunia modern dewasa ini penuh dengan kompetisi, untuk unggul dan sukses dalam kehidupan dituntut kemampuan bersaing, inovatif dan kreatif.
Oleh karena itu mari kita kembali sejenak ke ruang terdalam hati nurani kita, disana ada tersimpan bisikan abadi yang selalu setia mengingatkan kita tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik. mana yang seharusnya kita lakukan dan mana yang seharusnya tidak kita lakukan, relung terdalam itu tetap setia menyertai kita walau terkadang kita melupakan dan mengabaikannya. Kesetiannya sama besarnya dengan kasih sayang serta pengetahuan yang diberikan ibu kita ketika pertama sekali menghirup udara segar dunia fana ini.
Selamat merindukan kasih sayang Ibu dan Selamat mendengar dan memegang teguh pesan ibu, serta selamat menziarahi hati nurani untuk memetik pesan mulia dan berharga menyelimuti perjalanan menyelusuri ruang dan waktu. SALAM SUKSES SELALU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar